Dukung SayaDukung Pakde Noto di Trakteer

[Latest News][6]

abu nawas
abunawas
berbayar
Budaya
cerbung
cerkak
cerpen
digenjot
gay
hombreng
horor
hot
humor
informasi
LGBT
mesum
misteri
Novel
panas
puasa
sejarah
Terlarang
thriller

Labels

BOJO NDLOGOG

 

“Aku kenal bapakmu, Le. Lha wong bapakmu itu dulunya doyan perempuan. Kamu harus hati-hati, terlebih saat kamu bekerja. Di rumahmu hanya ada istri dan bapakmu saja to?

Aku terdiam, jijik mendengarnya. Entah apa maksud Pakde Sukiran menyampaikan itu padaku.

“Itu ‘kan dulu, Pakde. Sekarang Bapak sudah tua, mana mungkin begitu, apalagi dia sudah punya mantu!” bantahku.

Jujur aku malas mendengar orang-orang selalu menceritakan siapa Bapak ketika aku belum lahir.

“Justru itu. Istrimu itu yang pakde maksud. Dong po ra to kowe ki?”

Percakapan dengan Pakde Sukiran siang tadi, sewaktu kami beristirahat makan siang di gubuk sawah, masih terngiang di telingaku.

Aku menggeleng kala itu. “Tidak mungkin, Pakde. Masak Bapak mau kurang ajar dengan mantunya sendiri.”

“Pakde bukannya menakut-nakutimu, tetapi pakde kenal siapa bapakmu sebab dulu semasa muda kami berteman. Domongi kok ngiyil to kowe ki!”

Ah, masa bodo! Aku ingin segera sampai di rumah. Persetan dengan ucapan Pakde Sukiran yang terdengar menuduh Bapak. Mana mungkin Bapak mau merebut istriku? Sungguh tidak masuk akal ... terlalu mengada-ada!

 


****

Aku melangkah makin cepat, kulihat langit berubah pekat. Awan gelap menggulung, tak lama lagi pasti turun hujan.

Sebagai buruh cangkul di sawah Bendoro Jumakir, penghasilanku memang tidak seberapa. Namun, aku bersyukur karena istriku sangat mengerti keadaanku, mengerti bahwa aku sedang merintis hidup untuk membuatnya bahagia kelak.

Aku dan istriku tidak lama berpacaran seperti orang-orang, tetapi Bapak yang membawakannya untukku. Ya, Bapak yang mencarikan jodoh buatku.

Oh, iya. Namaku Margono, umur 24. Aku menikah dengan Tari, 22 tahun, empat bulan lalu.

 

****

Sampai di rumah.

“Dik!” panggilku.

Kucari ke dapur. “Dik?” Tidak ada istriku. Biasanya dia akan sibuk memasak untuk makan malamku.

“Apa Tari sakit?”

Segera aku menuju kamar.

“Dik?”

Kelambu kusibak. Tidak ada istriku.

“Dik, aku sudah pulang!” teriakku seraya melangkah meninggalkan kamar, tetapi ....

Langkahku tertahan, aku sepeti mencium bau lain di kamar ini. Segera aku mendekat ke tempat tidur kami.

Kelambu kusibak.

Sret!

Aku mencium bau tembakau. Baunya tidak saja menusuk hidungku, tetapi terasa menempel di kelambu.

Aku coba mengendusnya.

Tidak. Bau itu bukan dari kelambu.

Aku mendekatkan wajah ke seprai, mengendus baunya.

Jantungku berdegup lebih keras.

“Rokok lintingan!”

Dengan perlahan, aku meraih bantal yang biasa kupakai, mendekatkan wajah dan ....

“Bau rokoknya Bapak!” batinku, sebab bau di bantal yang paling kuat.

Kulempar bantal ke atas tempat tidur. Langkahku cepat menuju pintu belakang rumah.

Aku berteriak memanggil istriku, “Dik!”

Tak lama kemudian istriku muncul. Napasnya sedikit terengah-engah. Ada keringat di pelipisnya, padahal udara sedang dingin.

“Mas, sudah pulang?”

Mataku tidak lepas dari wajahnya.

“Kenapa kamar kita bau rokok Bapak?”

“Rokok Bapak?”

“Iya! Sejak kapan Bapak tidur di kamar kita, ha!” Sungguh aku geram, terlebih bila kusangkutpautkan dengan omongan Pakde Sukiran.

“Oalah. Itu … anu ... eh anu ... tadi Bapak numpang tiduran, Mas,” jawabnya sedikit gugup. “Kata Bapak kepalanya pusing. Atap kamarnya bocor karena hujan. Apa aku salah?”

“Hujan?” Pandangan mataku perlahan naik ke langit.

Awan gelap masih mengantung dan hujan belum turun.

Aku langsung meraih tangnya. “Apa kamu lihat kalau sekarang hujan?”

Istriku tertunduk lalu menggeleng.

Aku mengangkat dagunya. “Kamu membohongiku? Iya!”

Istriku kembali menggeleng dengan menatap mataku.

“Bapak itu orang tuamu, Mas. Tadi Bapak hanya numpang tiduran saja di kamar kita. Apa aku harus melarangnya?”

Jawaban itu terdengar polos di telingaku.

Istriku itu perempuan yatim, tidak pernah aneh-aneh dan selalu bertanya ‘apa aku salah?’ kalau aku mulai terlihat marah dengannya.

“Ah, sudahlah! Aku mau mandi.” Kulepas genggaman tanganku.

“Aku tadi dari sumur, tidak tahu kalau Mas pulang. Apa aku salah?”

“Tidak. Kamu tidak salah. Aku yang salah, Dik,” balasku yang sudah termakan omongan Pakde Sukiran.

Aku tak mau memperpanjang masalah bau rokok Bapak di kamar, aku tak mau curiga kepada istriku. Selama ini aku tidak pernah melihatnya dekat begitu intim dengan Bapak.

Ah! Kenapa aku ini, mudah sekali terpengaruh omongan orang!

 

****

 

Keesokan harinya.

 

Aku menceritakan kepada Sutikno, teman kerjaku di sawah saat yang lain sedang mandi, membersihkan lumpur sawah di anak sungai.

“Aku mencoba mengabaikan semuanya, menganggap bau rokok di kamarku sekadar kebetulan saja. Mungkin benar kata istriku, Bapak hanya numpang tiduran.”

“Cerita bapak menyukai menantunya ada, ‘kan? Kamu pernah dengar, ‘kan?” tanya Sutikno.

Aku mengangguk.

“Margono, Margono. Sebagai suami, kamu harus peka terhadap hal-hal kecil yang mencurigakan.”

“Maksudmu? Istriku dan Bapak ....”

“Aku tidak menuduh istrimu selingkuh dengan bapak mertuanya sendiri, tetapi sebagai suami, kamu harus peka terhadap hal-hal yang tak umum, hal yang tak sepatutnya terjadi di rumah tanggamu.”

“Apa aku harus mencurigai bapakku sendiri?”

“Bukan seperti itu juga, Margono. Aduh ... kenapa kamu ini, ha? Mikiro to mikir! Kamu paham tidak dengan apa yang kuucapkan, he?”

“Maksudmu?” Aku balik bertanya.

“Waspada! Waspada, Margono. Waspada!” balas Sutikno.

Aku tertunduk lesu mendengarnya.

“Bisa jadi semua yang kukatakan tadi benar, apalagi di rumah ada bapakmu. Bisa jadi to?”

“Mungkin Bapak hanya ingin lebih dekat dengan Tari,” kataku membela diri.

“Ealah, Margono. Dekat? Tidak lantas tiduran di kamarmu juga kan?”

Aku makin tersudut. Ada benarnya apa yang dikatakan Sutikno. Kalau Bapak ingin lebih dekat dengan istriku, lalu kenapa lancang tiduran di kamarku?

“Sudahlah, Margono. Tidak usah kamu pikir dalam-dalam ucapanku. Intinya, kamu harus waspada, waspada terhadap hal-hal yang bisa menghancurkan rumah tanggamu. Paham?”

“Tidak mungkin, Tikno. Tidak mungkin Tari selingkuh di belakangku, apalagi dengan bapakku sendiri.” Aku menampik ucapannya.

 

****

 

Pulang bekerja.

Matahari belum sepenuhnya tenggelam, langit masih jingga.

Setelah meletakkan cangkul, aku langsung menuju dapur. Kali ini aku tak memanggil istriku seperti biasa. Aku ingin membuktikan ucapan Sutikno, membuktikan kalau omongannya salah!

Di dapur aku tidak melihat istriku, tetapi aku mendengar derit kerekan sumur. Ya, istriku pasti sedang menimba air untukku mandi.

Aku melangkah ke kamar Bapak.

Pintu kamar apak hanya ditutup gorden, setelah mengendap, aku menyibaknya sedikit.

Kulihat Bapak sedang menyisir rambutnya di depan cermin yang ada di lemari kayu.

Tidak ada yang aneh. Bapak biasa mandi menjelang petang seperti sekarang ini.

Ah ... lega rasanya hatiku. Semua omongan yang kudengar ternyata tidak terbukti. Jelas saja ... tidak mungkin istriku selingkuh dengan Bapak. Titik!

Ah, sudahlah! Membayangkannya saja aku merasa jijik.

Aku hanya ingin mandi, biar tubuh dan otakku kembali segar, tidak mau membayankan hal kotor antara Bapak dan istriku.

 

****

Aku mengambil handuk di kamar lalu menggantungnya di leher.

Entah mengapa hatiku merasa lega. Aku sudah melupakan bau rokok Bapak di kamar ini.

Aku menoleh ke arah tempat tidur, tempat yang membuat pikiranku kotor gara-gara bau rokok Bapak.

Baru saja aku merasa lega ... astagfirullah!

Aku melihat ada sarung kawung di atas tempat tidurku, itu bukan sarungku, tetapi sarung Bapak!

Jantungku mulai berdegup tak karuan. Aku mengenali sarung itu tanpa harus mendekat.

Sarung Bapak terpelintir, tidak beraturan, seperti dilepas dengan terburu-buru.

Kakiku bergetar, aku membayangkannya lebih dalam, membayangkan adegan di atas tempat tidur antara istriku dan Bapak.

Astagfirullah!

“Tidak! Aku tidak mau menyimpulkan apa yang ada di otakku. Tidak!” batinku.

Jujur aku masih ragu dengan pikiranku sendiri.

Buru-buru aku meninggalkan kamar.

 

****

“Kenapa sarung Bapak ada di kamar kita, ha!” Aku tak mau lagi basa-basi kepada istriku.

“Sarung?” balasnya.

Kutarik tangan istriku dengan kasar saat ia sedang menarik tali timba.

“Kamu mau membohongiku lagi, ha? Iya!”

Istriku diam, seperti biasa tertunduk, tak mau menatap mataku saat marah begini.

“Kenapa sarung Bapak ada di kamar! Jelaskan padaku!”

“Bapak tadi kedinginan karena hujan, Mas,” jawabnya.

“Hujan?”

“Iya, Mas. Tadi hujan. Kata Bapak dia kedinginan dan numpang tiduran di kamar kita. Apa aku salah?”

“Jarak dari sawah tempatku bekerja dan rumah kita tidak seperti Semarang-Banyuwangi, Dik! Bahkan sejak pagi tidak ada mendung. Bagaimana mungkin hanya di rumah kita saja yang hujan, ha? Astagfirullah Al Adzim!” Aku mengelus dada mendengarnya, menahan kesal.

“Kenapa kamu biarkan Bapak tiduran di kamar kita, he? Kamu bisa bilang kalau tidak enak bila aku tahu, ‘kan?”

“Bapak ‘kan orang tuamu, Mas. Kalau numpang tiduran di kamar kita apa nanti tidak ....”

“Nanti apa, ha! Nanti apa!”

Malah dijawab dengan tangisan. “ Hu hu hu. Apa aku salah?”

“Ya, kamu salah!” balasku cepat.

“Sekarang jujur padaku, apa yang kamu lakukan dengan Bapak di kamar!”

Istriku mengusap air matanya. “Aku tidak melakukan apa-apa, Mas. Saat Bapak numpang tiduran, aku di dapur agar saat Mas pulang tidak lapar menungguku masak. Apa aku salah?”

“Sungguh?”

Istriku mengangguk.

Jujur aku tak tega melihatnya begini. Kecurigaanku sudah membuatnya menangis.

“Dik, maafkan aku.”

Istriku melepaskan tali timba lalu memelukku, kurasakan tubuhnya masih bergetar oleh tangis.

“Maafkan aku karena telah berpikiran yang tidak-tidak, Dik.” Kubelai rambutnya, tetapi ... aku mencium bau tembakau ... rokok Bapak!

PAKDE NOTO

Baca juga cerita seru lainnya di Wattpad dan Follow akun Pakde Noto @Kuswanoto3.

No comments:

Post a Comment

Start typing and press Enter to search